La Tahzan

IDENTITAS BUKU
la-tahzanJudul: La Tahzan
Pengarang: DR. ‘Aidh al-Qarni
Penerbit: Qisthi Press
Cetakan: 1, 2003
Tebal: xxviii + 571 halaman
Ukuran: 25 x 15 cm
Diresensi oleh
^_^
Eviana
DS
^_^
SINOPSIS
Sebagai salah satu buku kaetgori pencerahan hati (an-nafsu al-muthama’innah), La Tahzan menawarkan terapi yang lebih dekat dengan al-Quran dan Sunnah, ketimbang renungan-renungan reflektif semata. La Tahzan menjadi buku terlaris di Timur Tengah karena sejak cetakan pertamanya (th. 2001), buku ini terjual lebih dari 1 juta eksemplar.
Buku ini telah melambungkan nama penulisnya, DR.’Aidh al-Qarni, seorang dokter dalam bidang hadis yang hafizh Qur’an, ribuan hadis, dan juga buku bait syair Arab kuno hingga modern. Dalam usianya yang masih sangat muda, ia telah menjadi penulis paling produktif di Saudi Arabia.
Di Indonesia, buku yang Anda pegang ini mendapatkan sambutan luar biasa dan telah terjual puluhan ribu ekssemplar.
Buku yang berlatarkan warna kuning ini berisikan tentang berbagai langkah-langkah agar si pembaca takkan merasakan kesedihan lagi selama menjalani hidup di dunia ini. Buku tersebut ditulis untuk mendatangkan kebhagiaan, ketenangan, kedamaian, kelapangan hati, membuka pintu optimisme dan menyingkirkan segala kesulitan demi meraih masa depan yang lebih indah. Buku ini merupakan pengetuk hati agar selalu ingat akan rahmat dan ampunan Allah, bertawakkal dan barbaik sangka kepada-Nya, mengimani qadha’ dan qadar-Nya, menjalani hidup sesuai apa adanya, melepaskan kegundahan tentang masa depan, an mengingat nikmat Allah.
Buku ini mencoba memberikan resep-resep bagaimana mengusir rasa duka, cemas, sedih, tertekan, dan putus asa.
Salah satu pembahasan dalam buku ini adalah mengenai ’sabar itu indah: bersabar diri merupakan ciri orang-orang yang menghadapi berbagai kesulitan dengan lapang dada, kemauan yang keras, serta ketabahan yang besar. Karena itu, jika kita tidak bersabar, maka apa yang bisa kita lakukan.
Terimalah setiap pemberian Allah dengan Rela Hati, niscaya anda menjadi manusia paling kaya. Sebagian besar ulama safalus salih dan generasi awal umat ini adalah orang-orang yang secra materi merupakan fakir miskin. Mereka tidak memiliki harta yang melimpah, rumah yang megah, kendaraan yang bagus, dan juga pengawal pribadi. Meski demikian, ternyata mereka mampu membuat diri mereka dan masyarakatnya lebih bahagia. Yang demikianlah karena mereka senan tiasa memanfaatkans setiap pemberian Allah di jalan yang benar. Kabalikan dari kelompok manusia yang diberkahi ini adalah mereka yang dikarunia Allah dengan kekayaan yang meruah, harta banyak, nikmat yang melimpah, dan anak banyak. Tetapi semua itu justru menyebabkan diri mereka senantiasa merasa penuh derita, kecemasan, dan kegelisahan. Adapun penyebabnya, tak lain adalah karena mereka telah menyimpang dari fitrah dan tuntunan hidup yang benar. Ini menjadika bukti bahwa segala sesuatu (kekayaan,anak,pangkat,jabatan,kehormatan dan lain sebagainya) adalah bukan segalanya.
Jika anda ingin bahagia, maka terimalah dengan rela hati bentuk perawatan ubuh yang diciptakan Allah untuk Anda, apapun kondisi keluarga anda, bagaimanapun suara anda, seperti apapun daya tangkap dan pemahaman Anda, serta sebesar apapun pengahsilan Anda. Bahkan, kalau ingin meneladani para gru sufi yang zuhud, maka sesungguhnya mereka telah melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar apa yang disebutkan itu. Mereka selalu berkata ” Seyogyanya Anda senantiasa tetap senang hati menerima sedikit apapun yang anda miliki dan rela dengan segala sesuatu yang tidak anda miliki”. Ini mengisyaratkan bahwa harga diri Anda ditentukan oleh kemampuan, amal sahih, kemanfaatan, dan akhlak Anda. Karena itu, janganlah Anda bersedih degan wajah yang kurang cantik, harta yang tak banyak, anak yang sedikit, dan rumah yang tak megah! Singkatnya, terimalah seiap pembagian Allah dengan penuh kerelaan hati.
Emosi dan perasaan akan bergejolak dikarenakan dua hal; kegembiraan yang memuncak dan my\usibah yang berat. Dalam sebauh hadis Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku melarang dua macam ucapan bodoh lagi tercela: keluhan tatakala mendapatkan nikmat dan umpatan tatkala mendapatkan musibah.”
Barangsiapa mampu menguasai perasaannya dalam setiap peristiwa, baik yang memilukan dan juga yang menggembirakan,maka dialah orang yang sejainya memiliki kekukuhan iman dan keteguhan keyakinan. Karena itu pula, ia akan memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan dikarenakan keberhasilannya mengalahkan nafsu. Emosi yang tek terkendali hanya akan melelahkan, menyakitkan, dan meresahkan diri sendiri. Sebab, ketika marah, maka kemarahannya akan meluap da sulit dikendalikan. Dan itu akan mmbuat seluruh tubuhnya gemetar, mudah mmaki siapa saja, seluruh hatinya tertumpah ruah, nafasnya tersengal-sengal, dan ia akan cderung bertindak sekehendak hatinya. Adapun saat mengalami kegembiraan, ia menikmatinya secara berlebihan, mudah lupa diri, dan tak ingat lagi siapa dirinya. Begiulah manusia, kerika tak mnyukai seseorang, ia cenderung mneghardik dan mencelanya. Akibatnya, seluruh kebaikan orang yang taj ia sukai itu seakan-akan lenyap begitu saja. Demikian pula ketika mnyukai orang lain, maka orang itu akn terus ia puja dan ia sanjung setinggi-tingginya seolah-olah tak ada cacatnya. Dalam srbuah hadist dikatakan: “Cintailah orang yang engaku cintai sewajarnya, karena siapa tahu ia akan menjadi musuhmu di lain waktu, dan bencilah orang yang kamu benci sewajarnya, karma siapa tahu ia akn menjadi sahabatmu dilain waktu.”
Barang siapa mampu mengndalikan emosinya, mngendalikan akalnya dan menimbang segalanya dengan benar, maka ia akan melihat kebenaran, maka akan tahu jalan yang lurus dan akan menemukan hakekat.
Jangan ditangisi selama anda beriman pada Allah
Keimanan adalah rahasia dibalik kerelaan, ketenagan dan rasa aman. Sebaliknya, kebingungan dan ksengsaraan selalu mnegiringi kekufuran dan keraguan. Sering kita melikah orang-orang pandai—bahkan jenius—yang jiwa mereka hampa dari cahaya risalah. Sehingga pernyataan-pernyataan mereka terhadap hal-hal yang berhubungan denfan syariat sangat menyakitkan. Dengan keimanan, manusia akan dapat mengagapai kebahagiaa sebaliknya dengan kebingungan dan keraguannya dia menjadi snegasara.
Jangan bersedih karena anda berbeda dengan orang lain. Setiap orang mempunyai watak, sifat serta potensinya sendiri. Maka dari itu, seseorang tak boleh melebur ke dalam kepribadian orang lain. Anda diciptakan dengan bakat tertentu untuk melakukan sebuah pekerjaan tertentu pula. Seperti dikatakan: “Bacalah diri Anda, lalu pahami apa yang akan anda Berikan.” Emerson dalam makalah On-Self-Reliance menuliskan, “Akan sampai waktunya nani ketika ilmu pengetahuan manusia sampai pada suatu keyaknan bahwa kedengkian adalah sebuah kebodohan, den bertaklid adalah bunuh diri. Dan seorang harus memerima dirinya sendiri dalam keadaan apapun, karena itu adalah nasibnya. Walaupun alam semesta ini penuh dengan hal-hal yang baik, namun seseorang baru dapat menghasilkan satu biji atom setelah menanam dan menglah tanag yang telah diberikan kepadanya. Kekuatan yang adad dalam dirinya adalah sesuatuynag baru dalam ala mini. Dan tidak ada yang tahu seberapa besar kemampuannya, sampai pun dirinya sendiri, hingga ia mencoba.”
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.