Matinya Semangat Jihad

IDENTITAS BUKU
Judul: Matinya Semangat Jihad
Pengarang: Ed Husein
Tebal: 390 hal
Penerbit: Alvabet
Cetakan: Pertama, Juli 2008

Diresensi oleh
Rico AW

 
SINOPSIS
“Muslim yang saleh biasanya menghindari mengucapkan kata-kata kotor, tetapi di Hizbut Tahrir hal itu menjadi kebiasaan ketika berdebat dengan para Islamis, mengutuk kuffar..” (hal 132)
Sedikit menyinggung ideologi kristen di hal 249:
“Dan keseluruhan ide tentang trinitas, meskipun sekuat tenaga berusaha kupahami, selalu terlihat aneh bagiku.”
Pengakuan jujurnya yang mungkin bisa juga sebagai introspeksi bagi kita semua:
“Karena begitu berkomitmen penuh pada islam dan umat Muslim serta sangat berkeinginan mewujudkan pemerintahan yang berdasarkan pada al Quran, aku malah tak menyentuh kitab sucinya sama sekali.” (hal. 250)
Tentang Wahhabi dan Arab Saudi:
“Wahhabi adalah mazhab yang sangat literer. Metafora, alegoris, cinta dan pemahaman yang diluar pengertian manusia tidak berarti bagi mereka. Mereka benar-benar kasar kepada orang-orang islam yang mengungkapkan cinta dan dedikasinya kepada Nabi Muhammad. Bagi Wahhabi, hal itu hampir menyerupai ibadah dan karenanya menjurus kepada musyrik.” (hal. 314)
Halaman berikutnya mengupas sejarah kemunculan Wahhabi yang berdarah-darah, penuh dengan pembantaian.
“Mereka tidak hanya membunuh orang-orang islam dari kalangan Sufi dan Syi’ah, tetapi dengan sengaja bermaksud membinasakan siapa saja yang mempunyai hubungan darah dengan Nabi Muhammad, yang ditempat itu dikenal sebagai sayyid atau Ashraf.”(hal. 316)
Berbagai kritik blak-blakan lainnya terhadap kehidupan sosial, politik, hijab dan seksualitas di negeri Arab Saudi patut diacungi jempol.
Kekhawatiran terbesar terhadap terbentuknya negara islam sebagai berikut:
“..sebagian besar umat islam tahu bahwa Islam syi’ah memisahkan diri dari Islam Sunni yang menjadi arus utama disebabkan perang saudara dalam tubuh agama kita. Detail sejarah dari peristiwa ini adalah topik yang kebenarannya mereka klaim sendiri, namun kita tidak akan senang jika harus melupakan bahwa negara yang disebut-sebut sebagai negara Islam Bani Umaiyah itu telah membunuh cucu Nabi Muhammad, Imam Husain dan anggota keluarga lainnya. Kalangan Islamis, pakar dalam hal memutarbalikkan sejarah, melihat adanya sebuah pelajaran dibalik ini: oposisi terhadap negara yang disebut-sebut negara islam memberikan justufikasi untuk membunuh orang-orang islam, sekalipun ia adalah keturunan keluarga Nabi Muhammad sendiri…”(hal. 376)
Kelebihan dari novel ini adalah Kita akan dibawa berpetualang dari halaqah ke halaqah, usrah ke usrah. Menengok organ dalam hizbut tahrir, perbedaan ideologi mendasar dengan pergerakan lain.
Kekuarangannya mungkin menurut saya, memperoleh kesan membayangkan suasana yang sangat tidak simpatik dan mengerikan dalam suatu masjid yang terdapat aktivis IM, Hizbut Tahrir dan Salafy sekaligus.
Kebermanfaatan buku ini menurut saya mengajarkan semangat  dan berbagi bentuk jihad . Lalu, Hasil akhir akan membuat kita tercenung dan merenung, mengintropeksi diri. Walaupun tidak harus MELULU menyetujui pola pikir pengarangnya. Seperti dalam kalimat berikut:
“Pemisahan berdasarkan jenis kelamin, diperburuk lagi oleh kerudung, telah menimbulkan budaya frustasi seksual yang terkungkung dan kemudian tersalurkan dengan sendirinya melalui jalan yang paling tidak sehat. Berjuta-juta pemuda Saudi tidak diijinkan membiarkan seksualitas mereka berkembang secara alami, sehingga akibatnya mereka melihat lawan jenis hanya sebagai obyek seks.”
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.