Miror, Miror On The Wall
IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Miror, Miror On The Wall
Pengarang : Poppy D. Chusfani
Penrbit : Pt Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Waktu Terbit: Agustus 2008
Tebal : 176 halaman; 20 cm
SINOPSIS
“Kebimbangan Karin”
Sejak kecil, ibu satu anak ini tak bisa dipisahkan dari buku dan kegiatan yang tadinya hanya bisa disalurkan melalui kertas-kertas ujian semasa kuliah-mengarang bebas. Mengaku sebagai Tolkien freak dan penggemar genre fantasi, poppy sering menulis esai, artikel, dan cerpen untuk kalangan terbatas sebagai penerjemah dan editor paruh waktu-dan tentu saja full-timi mother. Perempuan yang (menumpang) ini tinggal di Bogor hampir seluruh hidupnya dan menggap hal terpenting dalam hidupnya adalah keluarga.
Karin merasa dirinya biasa-biasa saja. Bahkan terlalu biasa, apalagi jika dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan pandai. Cita-citanya untuk menjadi penyanyi soprano dan mimpinya untuk menarik perhatian Andre, cowok paling keren di sekolahnya, tampaknya takkan tercapai, karena ia selalu malu untuk melakukan apa pun. Sampai suatu ketika datang bala bantuan yang sama sekali tak diduganya, bagaikan anugrah yang diturunkan nenek moyangnya.
Karin melangkah keluar dari cermin. Sekarang ia merasa benar-benar seperti Alice di cerita Through the Looking Glass. Hanya saja sisi lain cerminnya bukan dunia antah-berantah, melainkan hanya ruangan beserta tiga penghuninya. Ia melirik jam dinding untuk mengetahui sudah berapa lama ia di dalam cermin. Dan napasnya tersentak.
Jam dindingnya mati. Jarumnya masih menunjukkan pukul tiga siang. Ia melirik weker di sebelah tempat tidurnya. Menunjukkan waktu yang sama: pukul tiga. Apa artinya? Apakah dunia berhenti berputar saat ia berada dalam cermin?
Karin mengitari tempat tidur, mengambil wekernya. Tak ada yang salah. Artinya memang waktu tak berjalan di dunia di balik cermin, atau waktu berhenti di sini.
Karin terlompat, membalikkan tubuh, dan segera terjengkang ke tempat tidur. Entakan tubuhnya membuatnya koprol ke belakang, berguling di kasur, terbanting keras ke lantai di sisi seberang tempat tidur. Kepalanya terentuk sisi kayu tempat tidur, berdenyut-denyut. Napasnya memburu. Apa yang barusan dilihatnya? Dua sosok di dekat pintu kamarnya. Dan salah satunya telah berbicara.
Karin terhenti berteriak, bergerak mndur cepat-cepat sambil duduk, punggungnya menabrak dinding di bawak jendela. Tubuhnya gemetar tak terkendali. Ia ingin memanggil seseorang. Ayah, Lis, Bi Sumi, Ani, siapa saja. Bahkan ia sempat berfikir untuk meneriakkan nama Nyi Rajadharma. Tapi mulutnya seakan terkunci dan suaranya takl dapat meloloskan diri dari tenggorokan.
Karin membelalakkan mata. Di hadapannya, dekat pintu kamarnya, duduk tegak dua ekor macan! Satu putih, satu hitam,. Dan yang hitam bisa berbicara! Karin hampir menangis ketakutan dan merasa dirinya telah gila.
NILAI BUKU
Buku ini asyik untuk dibaca. Bahasanya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak mengandung bahasa gaul atau bahasa asing. Kertas yang digunakan bagus dan lay out sampul depan menarik. Namun, warnanya kurang pas (kurang menyatu).




Komentar Terakhir