Cinta Tak Melantunkan Sesal
IDENTITAS BUKU
Judul : Pengarang : Mira W.
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbitan : 2001
Ukuran Buku : 18 cm x 11 cm
Tebal Buku : 296 halaman
Desain Sampul : Marcel A.W.
Diresensi oleh Shelvi Novianita
SINOPSIS
“Karena Cinta”
Andika Andrawina sangat beruntung karena memiliki tetangga sebaik Erlin. Berkat kemurahan hati Erlin, rumah tangga Andika yang di ujung tanduk itu pun dapat terselamatkan. Erlin berjanji akan memberikan anak yang tengah ia kandung pada Andika.
“Mas Har kan sedang study di Sidney, Mbak hanya tinggal telepon dia, dan katakan kalau Mbak hamil. Meskipun sebenarnya cuma pura-pura hamil…”
Awalnya Andika bimbang. Tegakah ia membohongi Hardianto? Tapi kenapa tidak ? Ini semua demi kebahagiannya. Dan demi kelangsungan rumah tangga mereka berdua pula. Andika sudah tidak mungkin lagi memberikan suaminya keturunan. Dokter Auliya telah memvonisnya mandul. Tidak ada pilihan lain. Andika terpaksa mengikuti rencana Erlin.
Setahun kemudian, sepulang Hardianto dari Sidney, semenjak Bunga, bayi mungil itu hadir, kehidupan rumah tangga Andika dan Hardianto terasa sempurna. Mereka teramat sangat menyayangi Bunga.
Sementara bagi Erlin, kehilangan seorang anak tidaklah menjadi masalah. Toh Andika telah memberikan ‘uang susu’ padanya. Uang itu dapat menghidupi ketiga anaknya serta memenuhi setumpuk kebutuhan yang lain selama Bang Azwar, suaminya, belum mendapatkan pekerjaan.
Namun, malam itu menjadi malam terakhir Andika menikmati kebahagiannya…..
Seorang laki-laki menelepon Andika dan meminta sejumlah uang padanya. Laki-laki itu mengancam akan membongkar seluruh kebohongan Andika pada suaminya. Andika panik, ia mengiyakan saja permintaan laki-laki itu.
Tepat pukul delapan malam, si pemeras datang ke rumah Andika. Ia memakai selubung kepala berwarna hitam. Si pemeras memaksa Andika untuk menyiapkan uang lebih banyak lagi dan bersikeras akan mengambilnya besok malam. Tentu saja Andika menolak. Namun si pemeras malah menyodorkan pisaunya. Andika ketakutan, dadanya sesak, ia seperti kehilangan separuh nafasnya. Refleks, Andika hanya mengangguk-angguk saja, mengiyakan permintaan pemeras itu untuk yang kedua kalinya. Dan saat laki-laki berselubung hitam itu berbalik, melangkah meninggalkan Andika,,,, BUUKKKG. Ia jatuh telungkup ke lantai. Andika histeris, ia tidak mengira akan senekat itu memukul kepala si pemeras dengan jambangan bunga. Entah kekuatan apa yang merasukinya.
Atas bantuan Erlin, Andika membuang mayat laki-laki pemeras, yang tidak lain adalah Bang Azwar itu ke tepi sungai. Andika sangat merasa bersalah, namun Erlin tetap berusaha menguatkannya.
“Ini adalah kesalahan Bang Azwar, Mbak, bukan Mbak.”
Tapi tetap saja, Andika merasa ketakutan, ia seperti dikejar-kejar dosa. Andika tertekan karena selama sepuluh hari terakhir ini ia terus dibayang-bayangi oleh arwah Bang Azwar. Akhirnya, ia tidak dapat lagi membendung perasaan bersalahnya dan memutuskan untuk menyerahkan diri ke pihak yang berwajib.
Dengan demikian, terbongkarlah kebohongan Andika. Hardianto sangat kecewa karena Andika mengatakan kalau Bunga bukanlah anak kandungnya.
Andika divonis lima belas tahun penjara. Bersamaan dengan itu, Hardianto menceraikan Andika.
“Bunga butuh seorang ibu, lima belas tahun itu bukanlah waktu yang singkat. Aku dan Bunga tidak dapat menunggumu. Meski dia bukan anak kandungku, tapi aku sangat menyayanginya. Akan kulakukan apapun demi perkembangan jiwa dan raganya. Kau juga menyayangi Bunga kan, An?”
Hati Andika yang sudah retak, menjadi hancur lebur seperti cermin dibanting ke batu. Semangat hidup pun telah memudar. Andika telah kehilangan segalanya. Masa depannya, anaknya, dan kini suami yang sangat dicintainya pula.
Untunglah ada Batara, seorang perwira polisi, yang begitu perduli dan perhatian pada Andika. Awalnya Batara hanya bersimpati pada Andika, tapi entah mengapa perasaan itu berubah menjadi cinta. Sekuat tenaga Batara kembali mengumpulkan bukti-bukti baru atas kasus pembunuhan itu, agar Andika terbebas dari hukuman. Batara yakin, perempuan sepolos dan selugu Andika pastilah dijebak. Dan, dugaan Batara benar,,,,,.
Batara berhasil membebaskan Andika dan meringkus penjahat yang sebenarnya, yaitu Hardianto dan Erlin. Hardianto dan Erlin telah lama menjalin hubungan gelap. Bunga adalah buah cinta mereka berdua. Mereka menyingkirkan Azwar dan sengaja menjebak Andika. Azwar hanya pingsan ketika Andika dan Erlin meninggalkannya di tepi sungai, kemudian Hardianto datang dan memukulnya sekuat tenaga hingga tak bernyawa. Andika yang berhati suci tentu akan merasa dikejar-kejar dosa hingga memutuskan untuk menyerahkan diri ke pihak yang berwajib. Selanjutnya, Hardianto dan Erlin pun menikah.
Sungguh keji perbuatan mereka!! Mereka memang pantas meringkuk di penjara dalam waktu yang lama.
Namun, pengacara Hardianto begitu handal sehingga Hardianto terbebas dari jeratan hukum. Sementara Erlin,,,. Ia telah mendapatkan ganjaran atas perbuatannya. Ya, Erlin kehilangan akalnya. Ia depresi berat karena arwah Bang Azwar terus mengganggunya.
Perlahan, Andika mulai mendapatkan kebahagiannya kembali. Selama Erlin menjalani perawatan di rumah sakit, Andika mendapatkan izin dari Hardianto untuk merawat Bunga. Hardianto sangat menyesal atas dosa yang ia lakukan pada Andika. Ingin sekali, ia mengajak Andika rujuk. Tapi Andika telah menentukan pilihannya. Ia lebih memilih merajut kisah cinta baru dengan Batara.
Suatu hari, Erlin datang ke rumah Andika. Erlin begitu marah, cemburu, karena ternyata Hardianto masih menaruh hati pada Andika. Erlin takut akan kehilangan Hardianto dan Bunga nantinya. Tanpa pikir panjang, Erlin berusaha menusuk Andika. Saat itu juga, Hardianto muncul dan berusaha menyelamatkan Andika dari amukan istrinya. Namun naas, pisau Erlin tertancap di punggung Hardianto. Hardianto pun segera dilarikan ke rumah sakit. Andika syok, cemas, ia sangat mengkhawatirkan keadaan mantan suaminya. Untung Batara segera menyusul ke rumah sakit sehingga bisa menenangkan hati Andika. Tidak lama kemudian, Batara mendapatkan telepon dengan kabar yang mengejutkan. Erlin bunuh diri! Entah apa yang ada di benaknya.
Setelah kematian Erlin, Hardianto menikah lagi. Disamping membutuhkan istri, ia juga membutuhkan seorang wanita yang mampu mengurus anak-anak yang ditinggalkan Erlin, yang kini menjadi tanggungannya. Sementara Andika, hidupnya telah bahagia bersama Bunga, dalam payung lindungan Batara.
Itulah cinta. Apapun dapat dilakukan karena cinta. Seperti Andika yang dengan ikhlas memaafkan kesalahan Hardianto karena cinta. Seperti Batara yang berupaya keras mengeluarkan Andika dari bui karena cinta. Dan Erlin yang kalap, hendak membunuh Andika, juga karena cinta. Cinta yang teramat besar pada Hardianto.
KELEBIHAN
- Cerita yang disajikan sangat menarik. Tokoh utama dikisahkan banyak sekali menghadapi permasalahan hidup, sehingga timbul rasa tertarik dan penasaran dalam diri pembaca untuk mengetahui bagaimana akhir cerita “Cinta Tak Melantunkan Sesal”
- (petikan cerita) Jadi habislah semua. Mula-mula kebebasannya, lalu suaminya. Dan kini, anaknya. Tak ada lagi yang tersisa. Tak ada! Untuk apa hidup ? Semua sudah punah tak bersisa.
- Selain pembaca dibuai kisah cinta yang mengharukan, pembaca juga diajak untuk melatih otak, yaitu berpikir untuk memecahkan teka-teki kasus pembunuhan yang disajikan
- (petikan cerita) Yang mengherankan, pada luka kecil itu ditemukan seutas benang dari bahan yang amat berbeda dengan pakaian korban. Berbeda pula dengan pakaian tersangka. Benang hitam semacam itu tidak ditemukan di tempat patah tulang yang kedua.
KEKURANGAN
- Cover atau desain sampul buku tidak semenarik cerita yang disajikan dalam novel. Dengan kata lain, cover buku tidak memiliki daya tarik.
KEBERMANFAATAN
Memberikan pesan pada kita bahwa:
- Hidup tidak akan pernah lepas dari cobaan. Setiap manusia pasti akan menemukan kesulitan dalam mengarungi hidup. Tapi di setiap kesulitan, di sanalah terdapat kemudahan. Yakini bahwa apapun yang terjadi, itulah yang terbaik
- Janganlah sekali-kali berkata dusta, sebab satu dusta akan diiringi dusta yang lain
- Sesuatu hal yang diawali dengan kebohongan, tidak akan berbuah manis
- Cinta adalah anugrah terindah Tuhan. Pahit atau manis cinta, tetaplah indah untuk dikenang karena Cinta Tak pernah Melantunkan Sesal.
Memberikan inspirasi pada kita untuk:
- Menjadi orang yang pemaaf, karena setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan
- Menjadi orang yang tidak pendendam, tidak ada satu orang pun yang berhak mengadili kesalahan orang lain, sebab hanya Tuhan-lah Yang Maha Adil
- Menjadi orang yang sabar, sebab setiap badai hidup, pasti akan berlalu.




Komentar Terakhir